Resesi adalah suatu keadaan ketika pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau minus selama dua kuartal (6 bulan – kuartal I dan II) berturut-turut.

Proses resesi sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun ketika wabah Covid-19 mulai melanda China dan menyebar ke berbagai negara. Hal ini sangat berpengaruh pada sektor akomodasi dan makan minum hingga minus 22,02%.

Tersirat pemerintah mengindikasikan Indonesia bisa mengalami resesi pada kuartal III 2020, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,8% pada kuartal II. Sedang menurut data yang di rilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari rabu (5/8/2020) mengatakan PDB Indonesia periode April-Juni 2020 terkontraksi -5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY). Apabila terus berlanjut hingga kuartal III 2020, maka ini adalah resesi pertama yang kita alami sejak 1998.

Apa dampak resesi bagi masyarakat kalangan bawah? dampak nyata adalah tingkat pengangguran akan bertambah. Jika produksi dalam negeri berkurang, otomatis lapangan kerja juga berkurang.

Resesi juga bisa menyebabkan penurunan harga (deflasi), tetapi jika resesi terus berlanjut maka yang terjadi adalah kenaikan harga sangat tinggi (hyper inflasi). Tentu hal ini berdapak pada daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Bagaimana kita bertahan saat resesi?

Secara umum kita bisa melakukan beberapa hal, misal bagi para karyawan sebaiknya tidak agresif pindah pekerjaan sebelum ada kepastian pekerjaan baru tersebut lebih stabil (mampu bertahan dimasa-masa sulit), sedang untuk para wirausahawan lebih baik menunda dulu rencana ekspansi.

Pentingnya memiliki dana cadangan untuk pengeluaran bulanan misal selama 3 – 6 bulan kedepan. Selain itu tahan dulu pengeluaran besar misal rencana kredit kendaraan atau rumah.