Kabar ini cukup mengejutkan mengingat bahwa produk laptop dari Toshiba sepanjang tahun 1990 sampai 2000-an menjadi salah satu merek laptop paling populer di pasaran.

Tetapi pada 2015, Toshiba membukukan kerugian selama setahun senilai 318 juta dollar AS (Rp 4,6 triliun), kerugian ini disinyalir merupakan alasan Toshiba untuk tidak melanjutkan bisnis laptopnya di pasar Eropa pada tahun 2016.

Pada tahun 2018, Toshiba telah menjual 80,1 persen saham bisnis pc dan laptopnya kepada Sharp senilai 36 juta dollar AS (Rp 526 miliar). Sejak itu Sharp mengganti nama divisi bisnis pc dan laptop Toshiba menja Dynabook.

Toshiba menjelaskan sekitar bulan Juni lalu telah menyelesaikan pengalihan 19,9 persen sisa saham bisnis pc nya kepada Dynabook Inc. Jadi kini sepenuhnya bisnis pc dan laptop Toshiba dimiliki oleh Sharp.

Selamat tinggal laptop Toshiba, terima kasih sempat meramaikan dunia per-laptop-an didunia.